RSS Feed

Cerita kaamu : Thesis/Anti-Thesis Pernikahan

Seperti biasa, Fitri merebus air di dapur. Menuangkan 2 sendok makan kopi pada sebuah cangkir, kemudian menambahkan 1 sendok teh gula dan 1 sendok teh sirup vanilla. Setelah air mendidih, Fitri menuangkannya hingga ¾ gelas, kemudian memenuhi sisanya dengan air matang. Walaupun baru 3 bulan menikah, Fitri sudah bisa membuat kopi sesuai selera suaminya.
Suami Fitri adalah seorang dokter, Duta namanya. Subuh jam segini biasanya Duta sudah selesai dzikir dan tengah berganti pakaian untuk jaga shift pagi di Rumah Sakit. Fitri meletakkan kopi dan roti dengan selai nanas di meja ruang keluarga. Beberapa saat kemudian, Duta keluar kamar, duduk di samping Fitri dan meminum kopi.

“Tadi Pak Irwan telepon, operasi hari ini batal karena pasien meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Jadi nanti mungkin pulangnya agak cepat.”

“Begitu ya mas, kasihan.”

“Usianya sudah tua, mungkin ini jalan yang terbaik.”

Duta membaca koran, Fitri menyalakan TV dan mengecilkan suaranya.

“Sudah jam 6, Aku pergi dulu.”

Duta berdiri, Fitri mengikuti hingga pintu rumah. Sebelum pergi, Duta hendak mengecup kening Fitri, tapi Fitri menahannya.
“Sebentar Mas, ada keringatnya.”
Fitri menyeka keringat di keningnya dengan sapu tangan. Duta tersenyum melihat tingkah istrinya. Setelah mengecup kening istrinya, Duta naik mobil dan berlalu pergi.

– – -||- – –

Jam makan siang, Duta masih berada di ruangannya, memasukkan data-data tertulis ke lembar elektronik di komputer. Tidak lama kemudian, pintu diketuk. Rupanya Dokter Anggoro, kepala dokter RS sekaligus dosen Duta dulu ketika masih kuliah.
“Duta, belum makan siang?”
“Nanti dulu Pak, menyelesaikan ini dahulu.”
“Nanti coba saya bilang sama bagian HRD untuk segera mencarikan asisten baru. Ngetik kan bukan tugas dokter.”
“Terima kasih Pak.”
Ruangan sempat hening sejenak, Dokter Anggoro kemudian mulai mengutarakan tujuan utamanya datang kemari, menanyakan kabar anaknya.
“Fitri sehat?”
“Alhamdulillah sehat.”
“Dia masih sering murung?”
“Tidak, Pak. Semenjak menikah, Fitri mulai berangsur-angsur ceria.”
“Ketika saya teringat Fitri, saya selalu merasa tidak enak terhadapmu. Sebagai orang tua, saya merasa tidak tanggung jawab.”
“Seorang anak perempuan adalah tanggung jawab orang tua. Tapi, seorang istri adalah tanggung jawab suami.”
“Iya, benar. Tapi, walaupun kalian sudah 3 bulan menikah, terkadang saya masih ragu apakah Fitri itu benar-benar sudah menjadi istrimu.”
“Rasa seperti itu wajar, Pak. Anda sudah bersama Fitri selama 22 tahun, wajar saja Anda masih tidak percaya bahwa anak Anda menikah. Mungkin, nanti juga terbiasa.”
Dokter Anggoro tersenyum kesepian.
“Iya. Aku suka kepribadianmu yang seperti itu Duta. Aku pergi dulu, kalau ada masalah langsung bicara sama saya, ok?”
“Masalah tentang Rumah Sakit atau Fitri, Pak?”
“Keduanya, ha ha ha.”
“Ha ha ha.”
Dokter Anggoro berlalu pergi. Duta meneruskan pekerjaannya yang sempat terhenti. Tidak lama kemudian, pintu kembali diketuk. Kali ini yang masuk seorang dokter cantik berumur 28 tahun, seumuran dengan Duta.
“Duh, yang nggak ada asisten, repotnya. Butuh bantuan nggak?”
“Nggak Kak, terima kasih.”
“Kubikinin kopi, mau?”
“Terima kasih, Kak.”
“Duta, gak usah pake Kak, jadi berasa tambah tua.”
“Iya, kak Anisa.”
Anisa meletakkan kopi di meja dan menyentil dahi Duta.
“Sirup vanila hampir habis, kalo ndak beli nanti keburu habis beneran lho.”
“Besok niatnya mau bawa dari rumah, Nis.”
“Yang harus diketik masih banyak?”
“Tinggal halaman terakhir.”
“Lagian Kamu juga, asisten pake dipecat.”
“Kalau masih bisa ditolerir sih nggak papa, Nis. Dia dah kelewatan.”
“Hi hi hi, jarang-jarang ada asisten nggodain dokter sampai kaya gitu.”
“Kalau dibiarkan bisa keterusan Nis. Itu sudah masuk kategori pelecehan seksual.”
“Iya iya… aha ha….”
Ruangan kembali senyap, tapi tidak berlangsung lama. Tanpa alasan Anisa duduk di meja Duta.
“Nisa?”
Duta bingung, Anisa mengelus-eluskan kakinya ke paha Duta.
“Asisten mungkin bisa Kamu pecat, bagaimana dengan dokter? Dokter yang lebih senior darimu~”
“Nisa!”
Duta hampir berdiri, tapi Anisa bangkit duluan dari meja, menghentikan candaannya, lalu berjalan ke arah pintu.
“Cita-citaku ingin membuat orang disekitarku jadi bahagia. Kamu masih ingat itu, Duta? Cita-citamu sendiri. Sudah 3 bulan berlalu, tidak ada satupun orang disekitarmu yang bahagia, melihatmu menikah dengan penyandang AIDS”
“Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Sampai saat ini aku tidak pernah menyesal sedikitpun.”
Anisa menengadahkan kepalanya sejenak, berharap air mata yang menyembul bisa masuk lagi.
“Sori, Duta. Anggap tadi tidak terjadi apa.”
Anisa menyajikan senyum ke Duta sebelum pergi meninggalkan ruangan. Duta menyelesaikan pekerjaannya, meletakkan cangkir di wastafel, kemudian keluar ruangan untuk memeriksa pasien.
– – -||- – –
Duta mendapat asisten baru, Fina namanya. Waktu wawancara, Duta terkesan dengan hobi Fina. Dengan antusias Fina mendeklarasikan bahwa dia hobi naik gunung, membuat 2 peserta wawancara yang lain tercengang. Menurut Duta, tidak penting apa hobi Fina, asalkan dinyatakan dengan antusias, karena itu berarti Fina jujur tentang hobinya, Duta senang dengan orang yang jujur.
Ini minggu kedua Fina bekerja sebagai asisten dokter. Dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja Duta. Awalnya Fina heran, mengapa Duta butuh seorang asisten padahal Duta bukan dokter senior. Tapi, akhirnya Fina paham, walaupun bukan dokter senior, Duta sering menerima tamu asing, terutama dari Jerman. Hari ini adalah yang ketiga dalam minggu ini.
“Dokter Duta, ada tamu Dokter Schneidzer dari Jaeger Medical Company Jerman.”
“Baik, tolong persilahkan masuk.”
“Perlu disipakan minuman hangat atau dingin, Dok?”
“Tidak perlu, Kamu silahkan kembali saja.”
“Baik, Dok.”
Fina kagum dengan Dokter Duta, tapi Dia juga kagum dengan Dokter Schenidzer, orang Jerman tapi lancar Bahasa Indonesia. Setelah mempersilahkan masuk, Fina kembali ke meja untuk mensortir email Dokter Duta. E-mail tersebut beberapa akan dicetak dan beberapa yang lain diteruskan ke e-mail pribadi Dokter Duta.
Selang 2 Jam, dokter Schneidzer pulang. Fina masuk ruangan karena dipanggil Dokter Duta.
“Fina, kira-kira Kamu tahu kenapa Dokter Schenidzer jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menemui saya?”
“Wah, kurang tahu, Dok. Tapi saya sebenarnya ingin tahu, penasaran Dok.”
“Sebenarnya kami berdiskusi mengenai HIV.”
“Karena skripsi Dokter Duta mengambil tema kendala deteksi dini HIV ya?”
“Bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak.”
Duta senang, Fina memiliki inisiatif untuk memeriksa latar belakang dirinya.
“Sebenarnya Fina, itu karena saya sebenarnya sedang meneliti HIV.”
“Untuk tindak lanjut hasil penelitian ketika kuliah ya?”
“Tidak, atau mungkin kurang tepat.”
“Lalu karena apa Dok?”
“Sebenarnya saya ingin cerita dari awal sebelum Kamu bekerja, tapi karena saya takut Kamu akan mengundurkan diri, jadi saya belum cerita sampai sekarang.”
“Cerita apa Dok?”
“Sebenarnya istri saya terkena AIDS.”
Fina sempat terdiam, memikirkan kalimat yang tepat untuk melanjutkan percakapan ini.
“Apakah pengaruh bawaan dari orang tua?”
“Bukan, tertular jarum suntik. Ketika masih kuliah, Dia sempat kecanduan narkoba. Ketika sedang pesta narkoba, salah satu pengguna ada yang sebenarnya sudah terjangkit. Dari 3 temannya, hanya istri saya yang tertular, mungkin sedang tidak beruntung.”
“Saya turut berduka cita, Dok. Tapi menurut saya Anda hebat, berani tinggal serumah dengan pengidap AIDS.”
“Itu karena saya sudah sangat kenal dengan penyakit itu, saya menerapkan tiap-tiap pencegahan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi istri saya masih sangat paranoid dengan penyakit ini. Dia tidak mau menggunakan alat makan yang sama, selalu memakai sarung tangan, menggunakan mesin cuci sendiri untuk pakaiannya, dan tidur di kamar terpisah. Rumah kami seperti 2 rumah terpisah yang dijadikan satu.”
Dokter Duta meminum kopinya, lalu menyelesaikan ceritanya.
“Memang saya selalu menerangkan padanya bahwa AIDS hanya bisa ditularkan lewat darah dan cairan kemaluan, tapi dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Dari semua yang ada di rumah sakit ini, hanya Dokter Anggoro, Dokter Anisa, dan Kamu yang tahu. Jadi, saya mohon tidak perlu dibesar-besarkan.”
“Iya, Dok. Sudah menjadi kode etik kedokteran untuk merahasiakan identitas penderita AIDS. Kalau begitu saya mohon diri.”
“Fina, boleh saya tanya satu hal?”
“Boleh, Dok.”
“Mengapa Kamu tadi menebak AIDS istri saya berasal dari keturunan?”
“Karena tadi Dokter Duta seperti merasa keberatan menceritakannya, jadi ada kemungkinan sumber AIDS dari hal yang menyangkut estetika, seperti berganti-ganti pasangan, genetik, atau narkoba.”
“Dan kenapa Kamu tidak menebak sumber HIV dari gonta-ganti pasangan?”
“Karena istri manapun tidak akan selingkuh jika punya suami seperti Anda, Dok.”
– – -||- – –
Fitri sedang menata majalah ketika Anisa mengetuk pintu. Fitri tidak tahu, Duta sengaja membiarkan meja berantakan supaya Fitri bisa mengerjakan sesuatu. Karena, kesan tidak dibutuhkan dapat menambah beban pasien penyakit apapun, terutama penyakit berat. Setelah mempersilahkan masuk, Fitri mengantar Anisa ke ruang laboratorium, di sana Duta sudah menunggu.
Anisa datang untuk membantu melakukan rangkaian percobaan. Duta melakukan percobaan berkenaan virus HIV di rumahnya sendiri. Pada awalnya, Duta melakukannya di laboratorium tertutup di Rumah Sakit, tetapi karena tidak tahu istirahat, Dokter Anggoro memutuskan untuk memindahkan laboratorium tersebut ke rumah, harapannya Duta bisa menyempatkan diri beristirahat. Tapi sama saja, Duta sering bekerja berlarut-larut, oleh karena itu kadang Anisa datang membantu untuk meringankan pekerjaan Duta.
Fitri yang tidak tahu menahu masalah medis, hanya bisa membuatkan kopi. Ketika matahari mulai terbenam, Anisa yang ke dapur untuk memasak. Setalah makan malam, Duta kembali ke laboratorium.
Duta sebenarnya sudah menemukan sel yang dapat bereaksi terhadap HIV. Tapi, masalah utama belum terpecahkan, virus HIV sendiri masih belum berhasil ditangkap hidup-hidup dari dalam tubuh manusia. Bila virus HIV berhasil ditangkap dari dalam tubuh manusia, maka dapat dianalisis, sehingga virus yang ada didalam tubuh bisa dilakukan identifikasi, atau bahkan dimatikan secara tuntas.
Setelah melakukan pengujian selama lebih dari 8 jam, didapatkan hasil nihil. Anisa yang kecapaian tertidur di sofa laboratorium. Fitri yang menolak tidur juga tertidur di sofa depan TV. Duta mengambil 2 selimut, menyelimutkannya pada 2 perempuan itu, dan melanjutkan beberapa pengujian lagi.
– – -||- – –
Duta terbangun di meja kerja. Setelah melipat selimut, Duta beranjak ke kamar mandi. Fitri bergegas ke dapur untuk membuat roti bakar dan kopi. Duta keluar kamar dengan pakaian rapi, bersiap pergi ke rumah sakit.
“Hari ini bukannya libur ya Mas?”
“Cuma setengah hari, nanti siang sudah pulang.”
“Kalau capek istirahat dulu aja Mas.”
Duta hanya membalas dengan senyum. Setelah mengecup kening Fitri, Duta bergegas ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Duta menyerahkan hasil penelitiannya kepada Fina untuk dibuat laporannya.
“Fina, nanti laporannya langsung dikirim email ke dokter Schneidzer.”
“Tidak perlu diperiksa Dok?”
“Tidak perlu, yang kemarin sudah bagus, yang ini tidak perlu saya periksa.”
Hari ini Duta memang tidak ada tugas jaga. Dia hanya kemari untuk menyerahkan hasil penelitian ke Fina untuk dibuat laporannya, dan membaca jurnal medis yang datang hari ini. Setelah membaca, Duta bersandar di kursi dan tertidur.
Matahari sudah tinggi ketika Duta dibangunkan Fina.
“Maaf Dok, Handphone Anda bunyi.”
“Makasih, itu hanya alaram, saya mau pulang siang.”
“Laporannya sudah selesai dan sudah saya kirim Dok. Email balasan Dokter Schenidzer juga sudah saya teruskan ke email Anda.”
“Terima kasih.”
Duta mengambil amplop dari laci dan memberikannya kepada Fina.
“Ini apa Dok?”
“Dana penelitian dari Jaeger Medical Company. Kamu kan sudah bikin laporan, jadi Kamu juga dapat bagian.”
“Tidak usah Dok, saya kan cuma ngetik.”
“Bedanya penelitian dan main-main itu kalo penelitian ada laporannya, yang bikin laporan kan Kamu.”
“Tapi Dok.”
Keraguan dipecah oleh suara dari belakang.
“Udah diambil aja.”
Dokter Anisa menyahut dari pintu. Fina akhirnya menerima uang itu, walau agak berat hati.
Anisa berniat mengantarkan Duta pulang, Anisa tahu, Duta masih capek karena kurang istirahat.
“Ayo, aku antar pulang. Mobilmu tinggal di sini aja. Besok aku juga ada sift pagi, aku jemput nanti.”
Duta pura-puta tidak tahu kalau besok Anisa tidak ada sift pagi. Duta yakin, besok Anisa akan pura-pura salah lihat jadwal. Tapi duta tidak ingin menyia-nyiakan keberanian Anisa untuk berbohong.
“Ok, Nis. Makasih.”
Duta tidur selama perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, Duta menawarkan untuk mampir, tapi Anisa menolak. Anisa berkilah ingin segera pulang untuk istirahat.
“Dut, tolong sampaikan terima kasih ke Fitri ya. Tadi Anisa nelpon Pak Anggoro, bilang kalo aku ikut begadang semalam, hi hi hi jadi aku bisa ikut pulang cepat hari ini.”
“Iya. Nis, yakin nggak mau mampir?”
“Nggak ah, gak enak gangguin orang pacaran.”
“Yee, makanya cari pacar sana.”
“Malah ngejek. Udah dibantu nggak makasih malah ngejek.”
“Iya-iya, makasih.”
“Makasihnya pake traktir.”
“Oke oke, tinggal minta kapan aku iya in.”
“Janji lho ya. Udah sana, ditungguin Fitri tuh.”
“Sampai jumpa besok ya.”
Anisa melambaikan tangan ke Fitri dan berlalu pergi.
Duta melepas sepatu di ruang tamu. Fitri merapikan sepatu suaminya di rak, kemudian duduk di samping suaminya.
“Aku harap Mas Duta nggak lupa janji Mas Duta ke Fitri dulu sebelum nikah.”
Fitri mengingatkan janji yang diminta kepada Duta sebelum menikah. Janji untuk tetap mencari istri lagi setelah mereka menikah, janji untuk polygami.
“Iya, tapi saat ini Mas Duta belum menemukan cinta lain, selainmu.”
Duta mencoba mencium Fitri, tapi pipinya ditahan tangan Fitri.
“Fitri serius Mas.”
Fitri menggelembungkan pipinya. Bukan hanya karena sebal, tapi juga untuk menutupi pipinya yang memerah karena malu.
“Bagaimana pendapat Mas Duta tentang Kak Anisa?”
“Anisa ya…”
“Menurut Fitri, Mbak Anisa bisa jadi Ibu yang baik.”
“Benar juga sih.”
Mata Fitri memancarkan kecemburuan. Duta melirik ke arah Anisa dan menyelesaikan kalimatnya.
“Anisa dokter genius, kalo nikah dengan dia anak kami pasti juga jadi dokter genius. Bila anakku dan Nisa ikut membantu penelitian, pasti bisa selesai dengan lebih cepat.”
Fitri kesal lagi, memukul lembut lengan suaminya. Duta yang dipukul tertawa.
“Mas Duta maunya apa sih, nyebelin.”
“Aku maunya kopi bikinanmu.”
Duta melempar senyum manja, Fitri menirukan kalimat Duta sambil memonyongkan bibirnya. Fitri bergumam kesal, berjalan ke arah dapur.
Seperti biasa, Fitri merebus air di dapur. Menuangkan 2 sendok makan kopi pada sebuah cangkir, kemudian menambahkan 1 sendok teh gula dan 1 sendok teh sirup vanilla. Setelah air mendidih, Fitri menuangkannya hingga ¾ gelas, kemudian memenuhi sisanya dengan air matang. Walaupun baru 3 bulan menikah, Fitri sudah bisa membuat kopi sesuai selera suaminya.

chavana

Cerita kaamu : Thesis/Anti-Thesis Pernikahan

Seperti biasa, Fitri merebus air di dapur. Menuangkan 2 sendok makan kopi pada sebuah cangkir, kemudian menambahkan 1 sendok teh gula dan 1 sendok teh sirup vanilla. Setelah air mendidih, Fitri menuangkannya hingga ¾ gelas, kemudian memenuhi sisanya dengan air matang. Walaupun baru 3 bulan menikah, Fitri sudah bisa membuat kopi sesuai selera suaminya.
Suami Fitri adalah seorang dokter, Duta namanya. Subuh jam segini biasanya Duta sudah selesai dzikir dan tengah berganti pakaian untuk jaga shift pagi di Rumah Sakit. Fitri meletakkan kopi dan roti dengan selai nanas di meja ruang keluarga. Beberapa saat kemudian, Duta keluar kamar, duduk di samping Fitri dan meminum kopi.

“Tadi Pak Irwan telepon, operasi hari ini batal karena pasien meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Jadi nanti mungkin pulangnya agak cepat.”

“Begitu ya mas, kasihan.”

“Usianya sudah tua, mungkin ini jalan yang terbaik.”

Duta membaca koran, Fitri menyalakan TV dan mengecilkan suaranya.

“Sudah jam 6, Aku pergi dulu.”

Duta berdiri, Fitri mengikuti hingga pintu rumah. Sebelum pergi, Duta hendak mengecup kening Fitri, tapi Fitri menahannya.
“Sebentar Mas, ada keringatnya.”
Fitri menyeka keringat di keningnya dengan sapu tangan. Duta tersenyum melihat tingkah istrinya. Setelah mengecup kening istrinya, Duta naik mobil dan berlalu pergi.

– – -||- – –

Jam makan siang, Duta masih berada di ruangannya, memasukkan data-data tertulis ke lembar elektronik di komputer. Tidak lama kemudian, pintu diketuk. Rupanya Dokter Anggoro, kepala dokter RS sekaligus dosen Duta dulu ketika masih kuliah.
“Duta, belum makan siang?”
“Nanti dulu Pak, menyelesaikan ini dahulu.”
“Nanti coba saya bilang sama bagian HRD untuk segera mencarikan asisten baru. Ngetik kan bukan tugas dokter.”
“Terima kasih Pak.”
Ruangan sempat hening sejenak, Dokter Anggoro kemudian mulai mengutarakan tujuan utamanya datang kemari, menanyakan kabar anaknya.
“Fitri sehat?”
“Alhamdulillah sehat.”
“Dia masih sering murung?”
“Tidak, Pak. Semenjak menikah, Fitri mulai berangsur-angsur ceria.”
“Ketika saya teringat Fitri, saya selalu merasa tidak enak terhadapmu. Sebagai orang tua, saya merasa tidak tanggung jawab.”
“Seorang anak perempuan adalah tanggung jawab orang tua. Tapi, seorang istri adalah tanggung jawab suami.”
“Iya, benar. Tapi, walaupun kalian sudah 3 bulan menikah, terkadang saya masih ragu apakah Fitri itu benar-benar sudah menjadi istrimu.”
“Rasa seperti itu wajar, Pak. Anda sudah bersama Fitri selama 22 tahun, wajar saja Anda masih tidak percaya bahwa anak Anda menikah. Mungkin, nanti juga terbiasa.”
Dokter Anggoro tersenyum kesepian.
“Iya. Aku suka kepribadianmu yang seperti itu Duta. Aku pergi dulu, kalau ada masalah langsung bicara sama saya, ok?”
“Masalah tentang Rumah Sakit atau Fitri, Pak?”
“Keduanya, ha ha ha.”
“Ha ha ha.”
Dokter Anggoro berlalu pergi. Duta meneruskan pekerjaannya yang sempat terhenti. Tidak lama kemudian, pintu kembali diketuk. Kali ini yang masuk seorang dokter cantik berumur 28 tahun, seumuran dengan Duta.
“Duh, yang nggak ada asisten, repotnya. Butuh bantuan nggak?”
“Nggak Kak, terima kasih.”
“Kubikinin kopi, mau?”
“Terima kasih, Kak.”
“Duta, gak usah pake Kak, jadi berasa tambah tua.”
“Iya, kak Anisa.”
Anisa meletakkan kopi di meja dan menyentil dahi Duta.
“Sirup vanila hampir habis, kalo ndak beli nanti keburu habis beneran lho.”
“Besok niatnya mau bawa dari rumah, Nis.”
“Yang harus diketik masih banyak?”
“Tinggal halaman terakhir.”
“Lagian Kamu juga, asisten pake dipecat.”
“Kalau masih bisa ditolerir sih nggak papa, Nis. Dia dah kelewatan.”
“Hi hi hi, jarang-jarang ada asisten nggodain dokter sampai kaya gitu.”
“Kalau dibiarkan bisa keterusan Nis. Itu sudah masuk kategori pelecehan seksual.”
“Iya iya… aha ha….”
Ruangan kembali senyap, tapi tidak berlangsung lama. Tanpa alasan Anisa duduk di meja Duta.
“Nisa?”
Duta bingung, Anisa mengelus-eluskan kakinya ke paha Duta.
“Asisten mungkin bisa Kamu pecat, bagaimana dengan dokter? Dokter yang lebih senior darimu~”
“Nisa!”
Duta hampir berdiri, tapi Anisa bangkit duluan dari meja, menghentikan candaannya, lalu berjalan ke arah pintu.
“Cita-citaku ingin membuat orang disekitarku jadi bahagia. Kamu masih ingat itu, Duta? Cita-citamu sendiri. Sudah 3 bulan berlalu, tidak ada satupun orang disekitarmu yang bahagia, melihatmu menikah dengan penyandang AIDS”
“Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Sampai saat ini aku tidak pernah menyesal sedikitpun.”
Anisa menengadahkan kepalanya sejenak, berharap air mata yang menyembul bisa masuk lagi.
“Sori, Duta. Anggap tadi tidak terjadi apa.”
Anisa menyajikan senyum ke Duta sebelum pergi meninggalkan ruangan. Duta menyelesaikan pekerjaannya, meletakkan cangkir di wastafel, kemudian keluar ruangan untuk memeriksa pasien.
– – -||- – –
Duta mendapat asisten baru, Fina namanya. Waktu wawancara, Duta terkesan dengan hobi Fina. Dengan antusias Fina mendeklarasikan bahwa dia hobi naik gunung, membuat 2 peserta wawancara yang lain tercengang. Menurut Duta, tidak penting apa hobi Fina, asalkan dinyatakan dengan antusias, karena itu berarti Fina jujur tentang hobinya, Duta senang dengan orang yang jujur.
Ini minggu kedua Fina bekerja sebagai asisten dokter. Dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja Duta. Awalnya Fina heran, mengapa Duta butuh seorang asisten padahal Duta bukan dokter senior. Tapi, akhirnya Fina paham, walaupun bukan dokter senior, Duta sering menerima tamu asing, terutama dari Jerman. Hari ini adalah yang ketiga dalam minggu ini.
“Dokter Duta, ada tamu Dokter Schneidzer dari Jaeger Medical Company Jerman.”
“Baik, tolong persilahkan masuk.”
“Perlu disipakan minuman hangat atau dingin, Dok?”
“Tidak perlu, Kamu silahkan kembali saja.”
“Baik, Dok.”
Fina kagum dengan Dokter Duta, tapi Dia juga kagum dengan Dokter Schenidzer, orang Jerman tapi lancar Bahasa Indonesia. Setelah mempersilahkan masuk, Fina kembali ke meja untuk mensortir email Dokter Duta. E-mail tersebut beberapa akan dicetak dan beberapa yang lain diteruskan ke e-mail pribadi Dokter Duta.
Selang 2 Jam, dokter Schneidzer pulang. Fina masuk ruangan karena dipanggil Dokter Duta.
“Fina, kira-kira Kamu tahu kenapa Dokter Schenidzer jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menemui saya?”
“Wah, kurang tahu, Dok. Tapi saya sebenarnya ingin tahu, penasaran Dok.”
“Sebenarnya kami berdiskusi mengenai HIV.”
“Karena skripsi Dokter Duta mengambil tema kendala deteksi dini HIV ya?”
“Bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak.”
Duta senang, Fina memiliki inisiatif untuk memeriksa latar belakang dirinya.
“Sebenarnya Fina, itu karena saya sebenarnya sedang meneliti HIV.”
“Untuk tindak lanjut hasil penelitian ketika kuliah ya?”
“Tidak, atau mungkin kurang tepat.”
“Lalu karena apa Dok?”
“Sebenarnya saya ingin cerita dari awal sebelum Kamu bekerja, tapi karena saya takut Kamu akan mengundurkan diri, jadi saya belum cerita sampai sekarang.”
“Cerita apa Dok?”
“Sebenarnya istri saya terkena AIDS.”
Fina sempat terdiam, memikirkan kalimat yang tepat untuk melanjutkan percakapan ini.
“Apakah pengaruh bawaan dari orang tua?”
“Bukan, tertular jarum suntik. Ketika masih kuliah, Dia sempat kecanduan narkoba. Ketika sedang pesta narkoba, salah satu pengguna ada yang sebenarnya sudah terjangkit. Dari 3 temannya, hanya istri saya yang tertular, mungkin sedang tidak beruntung.”
“Saya turut berduka cita, Dok. Tapi menurut saya Anda hebat, berani tinggal serumah dengan pengidap AIDS.”
“Itu karena saya sudah sangat kenal dengan penyakit itu, saya menerapkan tiap-tiap pencegahan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi istri saya masih sangat paranoid dengan penyakit ini. Dia tidak mau menggunakan alat makan yang sama, selalu memakai sarung tangan, menggunakan mesin cuci sendiri untuk pakaiannya, dan tidur di kamar terpisah. Rumah kami seperti 2 rumah terpisah yang dijadikan satu.”
Dokter Duta meminum kopinya, lalu menyelesaikan ceritanya.
“Memang saya selalu menerangkan padanya bahwa AIDS hanya bisa ditularkan lewat darah dan cairan kemaluan, tapi dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Dari semua yang ada di rumah sakit ini, hanya Dokter Anggoro, Dokter Anisa, dan Kamu yang tahu. Jadi, saya mohon tidak perlu dibesar-besarkan.”
“Iya, Dok. Sudah menjadi kode etik kedokteran untuk merahasiakan identitas penderita AIDS. Kalau begitu saya mohon diri.”
“Fina, boleh saya tanya satu hal?”
“Boleh, Dok.”
“Mengapa Kamu tadi menebak AIDS istri saya berasal dari keturunan?”
“Karena tadi Dokter Duta seperti merasa keberatan menceritakannya, jadi ada kemungkinan sumber AIDS dari hal yang menyangkut estetika, seperti berganti-ganti pasangan, genetik, atau narkoba.”
“Dan kenapa Kamu tidak menebak sumber HIV dari gonta-ganti pasangan?”
“Karena istri manapun tidak akan selingkuh jika punya suami seperti Anda, Dok.”
– – -||- – –
Fitri sedang menata majalah ketika Anisa mengetuk pintu. Fitri tidak tahu, Duta sengaja membiarkan meja berantakan supaya Fitri bisa mengerjakan sesuatu. Karena, kesan tidak dibutuhkan dapat menambah beban pasien penyakit apapun, terutama penyakit berat. Setelah mempersilahkan masuk, Fitri mengantar Anisa ke ruang laboratorium, di sana Duta sudah menunggu.
Anisa datang untuk membantu melakukan rangkaian percobaan. Duta melakukan percobaan berkenaan virus HIV di rumahnya sendiri. Pada awalnya, Duta melakukannya di laboratorium tertutup di Rumah Sakit, tetapi karena tidak tahu istirahat, Dokter Anggoro memutuskan untuk memindahkan laboratorium tersebut ke rumah, harapannya Duta bisa menyempatkan diri beristirahat. Tapi sama saja, Duta sering bekerja berlarut-larut, oleh karena itu kadang Anisa datang membantu untuk meringankan pekerjaan Duta.
Fitri yang tidak tahu menahu masalah medis, hanya bisa membuatkan kopi. Ketika matahari mulai terbenam, Anisa yang ke dapur untuk memasak. Setalah makan malam, Duta kembali ke laboratorium.
Duta sebenarnya sudah menemukan sel yang dapat bereaksi terhadap HIV. Tapi, masalah utama belum terpecahkan, virus HIV sendiri masih belum berhasil ditangkap hidup-hidup dari dalam tubuh manusia. Bila virus HIV berhasil ditangkap dari dalam tubuh manusia, maka dapat dianalisis, sehingga virus yang ada didalam tubuh bisa dilakukan identifikasi, atau bahkan dimatikan secara tuntas.
Setelah melakukan pengujian selama lebih dari 8 jam, didapatkan hasil nihil. Anisa yang kecapaian tertidur di sofa laboratorium. Fitri yang menolak tidur juga tertidur di sofa depan TV. Duta mengambil 2 selimut, menyelimutkannya pada 2 perempuan itu, dan melanjutkan beberapa pengujian lagi.
– – -||- – –
Duta terbangun di meja kerja. Setelah melipat selimut, Duta beranjak ke kamar mandi. Fitri bergegas ke dapur untuk membuat roti bakar dan kopi. Duta keluar kamar dengan pakaian rapi, bersiap pergi ke rumah sakit.
“Hari ini bukannya libur ya Mas?”
“Cuma setengah hari, nanti siang sudah pulang.”
“Kalau capek istirahat dulu aja Mas.”
Duta hanya membalas dengan senyum. Setelah mengecup kening Fitri, Duta bergegas ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Duta menyerahkan hasil penelitiannya kepada Fina untuk dibuat laporannya.
“Fina, nanti laporannya langsung dikirim email ke dokter Schneidzer.”
“Tidak perlu diperiksa Dok?”
“Tidak perlu, yang kemarin sudah bagus, yang ini tidak perlu saya periksa.”
Hari ini Duta memang tidak ada tugas jaga. Dia hanya kemari untuk menyerahkan hasil penelitian ke Fina untuk dibuat laporannya, dan membaca jurnal medis yang datang hari ini. Setelah membaca, Duta bersandar di kursi dan tertidur.
Matahari sudah tinggi ketika Duta dibangunkan Fina.
“Maaf Dok, Handphone Anda bunyi.”
“Makasih, itu hanya alaram, saya mau pulang siang.”
“Laporannya sudah selesai dan sudah saya kirim Dok. Email balasan Dokter Schenidzer juga sudah saya teruskan ke email Anda.”
“Terima kasih.”
Duta mengambil amplop dari laci dan memberikannya kepada Fina.
“Ini apa Dok?”
“Dana penelitian dari Jaeger Medical Company. Kamu kan sudah bikin laporan, jadi Kamu juga dapat bagian.”
“Tidak usah Dok, saya kan cuma ngetik.”
“Bedanya penelitian dan main-main itu kalo penelitian ada laporannya, yang bikin laporan kan Kamu.”
“Tapi Dok.”
Keraguan dipecah oleh suara dari belakang.
“Udah diambil aja.”
Dokter Anisa menyahut dari pintu. Fina akhirnya menerima uang itu, walau agak berat hati.
Anisa berniat mengantarkan Duta pulang, Anisa tahu, Duta masih capek karena kurang istirahat.
“Ayo, aku antar pulang. Mobilmu tinggal di sini aja. Besok aku juga ada sift pagi, aku jemput nanti.”
Duta pura-puta tidak tahu kalau besok Anisa tidak ada sift pagi. Duta yakin, besok Anisa akan pura-pura salah lihat jadwal. Tapi duta tidak ingin menyia-nyiakan keberanian Anisa untuk berbohong.
“Ok, Nis. Makasih.”
Duta tidur selama perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, Duta menawarkan untuk mampir, tapi Anisa menolak. Anisa berkilah ingin segera pulang untuk istirahat.
“Dut, tolong sampaikan terima kasih ke Fitri ya. Tadi Anisa nelpon Pak Anggoro, bilang kalo aku ikut begadang semalam, hi hi hi jadi aku bisa ikut pulang cepat hari ini.”
“Iya. Nis, yakin nggak mau mampir?”
“Nggak ah, gak enak gangguin orang pacaran.”
“Yee, makanya cari pacar sana.”
“Malah ngejek. Udah dibantu nggak makasih malah ngejek.”
“Iya-iya, makasih.”
“Makasihnya pake traktir.”
“Oke oke, tinggal minta kapan aku iya in.”
“Janji lho ya. Udah sana, ditungguin Fitri tuh.”
“Sampai jumpa besok ya.”
Anisa melambaikan tangan ke Fitri dan berlalu pergi.
Duta melepas sepatu di ruang tamu. Fitri merapikan sepatu suaminya di rak, kemudian duduk di samping suaminya.
“Aku harap Mas Duta nggak lupa janji Mas Duta ke Fitri dulu sebelum nikah.”
Fitri mengingatkan janji yang diminta kepada Duta sebelum menikah. Janji untuk tetap mencari istri lagi setelah mereka menikah, janji untuk polygami.
“Iya, tapi saat ini Mas Duta belum menemukan cinta lain, selainmu.”
Duta mencoba mencium Fitri, tapi pipinya ditahan tangan Fitri.
“Fitri serius Mas.”
Fitri menggelembungkan pipinya. Bukan hanya karena sebal, tapi juga untuk menutupi pipinya yang memerah karena malu.
“Bagaimana pendapat Mas Duta tentang Kak Anisa?”
“Anisa ya…”
“Menurut Fitri, Mbak Anisa bisa jadi Ibu yang baik.”
“Benar juga sih.”
Mata Fitri memancarkan kecemburuan. Duta melirik ke arah Anisa dan menyelesaikan kalimatnya.
“Anisa dokter genius, kalo nikah dengan dia anak kami pasti juga jadi dokter genius. Bila anakku dan Nisa ikut membantu penelitian, pasti bisa selesai dengan lebih cepat.”
Fitri kesal lagi, memukul lembut lengan suaminya. Duta yang dipukul tertawa.
“Mas Duta maunya apa sih, nyebelin.”
“Aku maunya kopi bikinanmu.”
Duta melempar senyum manja, Fitri menirukan kalimat Duta sambil memonyongkan bibirnya. Fitri bergumam kesal, berjalan ke arah dapur.
Seperti biasa, Fitri merebus air di dapur. Menuangkan 2 sendok makan kopi pada sebuah cangkir, kemudian menambahkan 1 sendok teh gula dan 1 sendok teh sirup vanilla. Setelah air mendidih, Fitri menuangkannya hingga ¾ gelas, kemudian memenuhi sisanya dengan air matang. Walaupun baru 3 bulan menikah, Fitri sudah bisa membuat kopi sesuai selera suaminya.

chavana

Rasa

aku diam, kau bilang cuek.

aku bicara, kau bilang omong kosong.

aku usaha, kau bilang sia-sia

Pagi ini sama seperti hari lalu, aku membeli setengah mangkok bubur ayam khas cirebon. duduk dipaling pojok bangku yang disediakan.

Duduk kali ini berbeda. dengan duduk yang lalu. kali ini hanya sambal dan kecap yang bersedia memberiku rasa.

berbeda dengan rasa sebelumnya yang tidak pernah aku tahu arah tujuannya. tapi aku bahagia dengan rasanya.

“sudah mas mangkoknya?”

tiba-tiba suara itu menyapaku yang tak sadar bubur setengah mangkok itu sudah habis.

“ohh, sudah pak. berapa semuanya?”,ucapku
“8000 mas”, jawab sang penjual bubur.

ya, harga 8000 untuk setengah mangkok bubur bukanlah harga yang lagi murah. tapi aku suka duduk disini. seolah suasana itu menggambarkan rasa yang berbeda.

berbeda dengan kisah lalu, aku kini tidak menikmati masa-masa hidupku. kesibukan membuat aku kehilangan semua kebahagiaan.
kamu.

Rasa, adakah keadilan untukku sedikit saja?

cerita kamu : Dadar Gulung

Tergulung dalam pesona dan keramahan
Aku berjalan ke arahmu
Namun jangan khawatirkan aku yang telah sejauh ini
Lihatlah, aku selalu maju ke depan, menuju rintangan berikutnya

Lihatlah dunia yang bergoyang diterpa angin
Kemudian memantulkan tanda hujan
Di sana aku selalu mengejar bayang-bayangmu, di hari yang jauh

Karena semua tentangmu adalah kenangan indah
Meskipun hari berganti bulan, cuaca berganti musim
Aku tetap tidak bisa kembali ke mimpi tentangmu
Karena rasa sakit yang bergema tiap kali aku mengingatnya

Ketika mentari bersinar terang, kau tersenyum
Aku memeluk keabadian dalam diam
Dan bahkan dengan berlalunya waktu, mimpi tentangmu tak pernah berakhir

Takdir untuk juara

“Kali ini tentang pertandingan final sepak bola, haru nan mengejutkan tapi ini nyata.”

saat itu posisi kami adalah tim yang tak diperhitungkan untuk berlaga pada laga final. Tak ada pemain yang benar-benar bersinar. banyak orang yang bilang kami beruntung masuk final. namun tak pernah ada yang namanya keberuntungan, ini soal takdir dan kerja keras.

final berlangsung sebagaimana prediksi semua orang. sampai menit ke-75 kami tertinggal 3-0. skor yang cukup telak untuk mengembalikan keadaan menjadi unggul. bahkan karena saking membosankannya, ada penonton yang sudah meninggalkan bangku penonton karena mereka pikir hasilnya sudah pasti tak akan berubah.
kami akan kalah dengan mudah. kita anggap periode untuk juara kali ini sudah lewat.

aku tak bisa berbuat apa2, entah rasanya kami bermain semakin buruk menjelang waktu usai. akhirnya pelatih memasukkan pemain pengganti terakhir, rio.
sosok riang tanpa beban dan sangat giat dalam lapangan. 15 menit terakhir yang awalnya membosankan berubah menjadi lebih “hidup”. sedikit demi sedikit kami bermain menjadi lebih baik. 1 gol yang diciptakan rio membuat semangat kami kembali.
benar, bermainlah dengan hati. tak usah pikir  tentang hasil.
tanpa beban.

memasuki menit ke 80 kami kembali mengejutkan banyak pihak. 1 gol kembali kami ciptakan melalui aksi cerdas dari seorang andri. kedudukan saat itu begitu menegangkan. begitupun aku. memasuki menit ke-90. situasi kembali memanas. aku berhasil mencetak gol penyama kedudukan melalui kemelut di depan gawang. semua tim bersorak sorai.
“kami kembali hidup”

tapi pertandingan belum berakhir. kita harus melupakan euforia saat menyamakan kedudukan. karena terpaksa pertandingan ini harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. kami tetap harus bekerja keras dan bermain lepas.
kembali aku bilang, “ini masalah usaha dan takdir, kembali bermain ke lapangan,habiskan”

tambahan waktu 2×15 menit pun dimulai. para pemain sudah mulai kelelahan. tak ada gol yang tercipta saat perpanjangan waktu. dan kami pun harus menyelesaikannya dengan adu pinalti. semua tampak tegang. sang pelatih mulai meracik komposisi penendang eksekusi pinalti ini.

satu persatu eksekutor maju dan berhasil menuntaskaan pekerjaannya. hingga penendang ke-6 dari tim lawan.
“tang” bola mengenai tiang atas gawang dan menjauh meninggalkan gawang.
dalam sekejap kami bersorak..berlariii menuju arah gawang..kami juara!

“ini takdir, namun bukankah kita harus tetap berusaha mencapainya?”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 383 other followers